Membuat goal itu salah!!! part 2

AAEAAQAAAAAAAAeWAAAAJDBhZDQ0ZDNmLTkwZWYtNDAxMi1hOGQ4LTljOWFiODExNGI4ZQ

maaf atas kesibukan saya, baru sekarang update artikel, lanjut mengenai membuat goal itu salah part 2 yaitu dimana membuat goal itu salah jika kita menggunakan standar orang lain.

Seringkali kita secara sadar maupun tidak sadar menggunakan standar orang lain atau orang yang kita kagumi. Sebenarnya sih ga masalah kalau mau gunakan sebagai motivasi tetapi kalau berakhir tidak nyaman maka itu menjadi masalah.

Sebagai contoh boleh-boleh saja punya tujuan bisa lari marathon (42km), tetapi menjadi keliru kalau baru mulai belajar berlari lalu 3 bulan ke depan sudah mendaftar untuk ikut lari marathon. bisa aja sih… bisa mampus kalau ikut.

Paling tidak belajar berlari perlahan-lahan, kemudian langkah dan nafas diatur, kemudian berat tubuh lalu pola makan dan seterusnya. Nah ada hal menarik disini adalah saya mempunyai beberapa teman yang setelah selesai olahraga pergi makan, tapi tubuh ideal, sedangkan ada juga yang makan terlebih dahulu lalu beristirahat 1-2 jam baru latihan. Kalau kamu milih yang mana? Dua-duanya punya tubuh yang ideal loh, body bagus, tenaga kuat, lari sudah 21 km. yang mana yang mau anda pilih tergantung metabolisme dan ritme tubuh anda sekalian, bukan soal sudah makan atau belum.

Tujuannya tetap lari marathon, tetapi standar kan beda tiap orang, bisa saja 49% memilih makan sebelum latihan dan 49% memilih setelah latihan baru makan, bisa jadi 2% memilih tidak tahu atau tidak peduli. Goal nya bisa jadi mau lari marathon tetapi standar belum tentu sama. Standar latihannya jelas berbeda satu sama lain.

Sampai disini mungkin buat yang sudah membaca part 1 maka pasti tahu bahwa membuat goal itu bisa melalui orientasi hasil atau orientasi proses. Nah seperti yang sudah tertulis maka kita memang butuh goal untuk arah, mengetahui dimana kita berada dan mau kemana kita selanjutnya. Bedanya orientasi proses dan hasil itu terletak di jangka waktunya, maksudnya begini ketika awal-awal memulai sesuatu maka sebaiknya menggunakan goal dengan orientasi proses. Seperti lari tadi, secara perlahan dan bertahap mengatur nafas kita, langkah kita, pola makan kita dan seterusnya. Tidak mungkin langsung lari cepat atau langkah yang cepat karena kita akan kehabisan nafas, begitu pula ketika kita mengatur nafas kita, begitu juga dengan mengatur pola makan.

Sedikit merembet ke urusan trading, sebenarnya sejak artikel 2% atau 20% muncul banyak yang secara pribadi maupun ketika tatap muka bertemu mengatakan bahwa saya salah dan menunjukkan bahwa saya salah. Salah paham pertama adalah sebenarnya artikel itu saya tulis karena tujuannya untuk memberitahu bahwa dimana letak kenyamanan anda, bukan soal mana yang lebih enak jangka panjang dan tidak enak pada jangka pendek kebetulan saja saya nyaman di jangka waktu 1 tahun (saya merasa 1 tahun itu waktu yang pendek ya).

Salah paham kedua adalah soal di angka persenan, seolah itu angka mati atau baku, 2% atau 20%, soalnya saya menerima email bahkan ditunjukin secara langsung ada yang sebulan secara berturut-turut mendapatkan profit diatas 5%, begitu pula ada yang menunjukkan portofolionya tercapai ratusan bahkan ada yang ribuan persen hanya dalam jangka waktu 9 bulan. Yang mereka tidak tahu adalah bahwa ada juga yang meminta tolong pada saya supaya dapat berkurang lossnya dari yang minus 9% hingga minus 85% bahkan sisa 3% dari modal awal (dari satu buah rumah mewah berakhir jadi satu mobil pickup). Ini bukan soal angka persenan, ini soal anda gunakan standar siapa? Ini juga bukan soal hebat-hebatan.

Ini soal acuan mana yang anda pilih, anda tergiur profit yang besar atau resiko yang terukur? Bagi yang profit besar saya ucapkan selamat, anda layak karena ada banyak sekali teman-teman trader lain juga yang ingin seperti anda, masalahnya adalah standar mana yang anda pakai?

Jadi waktu anda mau membuat resolusi atau goal maka yang perlu diingat adalah anda melihat dari ukuran yang mana? Apakah standar yang dipakai oleh orang lain itu cocok tidak dengan anda? Bagaimana menentukan standar? Awal-awal bisa gunakan acuan atau standar orang lain sambil mengembangkan yang cocok dan sesuai dengan kepribadian anda (silakan cari informasi lebih lanjut mengenai hal ini pada pelatihan pengembangan diri)

Semoga menginspirasi.

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

11 + = 14