Membuat Goal itu salah!!! – part 1

oops

Saya menemukan ini ketika membaca sebuah artikel dari Dr. Barton di website  http://moneymappress.com/guru/d-r-barton/ dan di www.vantharp.com

Biasanya kita membuat goal dengan adanya tujuan yang jelas, ya rata-rata semua motivator atau semua pelatih mengajarkan demikian. Pokoknya goal atau mimpi atau tujuan harus jelas, terarah dan terukur. Saya pun kadang menjelaskan demikian karena bercerita hal yang abstrak butuh ukuran, butuh sesuatu yang solid.

Tetapi masalahnya kan orang-orang beda-beda, coba deh perhatikan ada yang kalau dipasang target merasa tidak nyaman, ada pula yang dipasang target malah kejar-kejaran dan determinasi tinggi.

Oke jadi kalau seperti hal diatas dapat dipastikan orientasinya adalah pada hasil. Dan anda tahu tentunya selama ini saya mencoba untuk menjadikan tubuh saya kembali ideal (ideal loh bukan kurus, bukan gemuk hanya cukup ideal) Selama beberapa tahun pula saya gonta ganti tempat gym, gonta ganti pelatih karena saya merasa tidak cocok, lalu datanglah musim sepeda (saya tidak begitu antusias dengan sepeda), dan terakhir adalah lari.

Sebelum membahas soal lari maka saya ingin membahas bahwa membuat goal itu salah jadi apakah  dengan begitu maka sebaiknya tidak usah membuat goal? tentu tidak, tapi sebaiknya mau seperti apa goal yang anda buat itu tujuannya.

Saya mencoba berpikir analogi apa yang bagus dan kebetulan saya mempunyai seorang anak dan kebetulan saya sedang mencoba olahraga lari. Oke coba saya pikirkan (secara harfiah saya bolak balik tidur dan berpikir contoh apa yang layak dipakai) dan tidak dapat menemukan kecuali seperti yang Dr. Barton tulis sebelumnya, hanya saja contohnya menggunakan pengalaman saya pribadi.

Mari kita mulai, sampai saat ini di dunia barat melakukan setting goal juga masih penuh perdebatan, goal kebanyakan di buat berdasarkan tujuan yang ingin dicapai. Padahal ada goal yang dicapai berdasarkan orientasi hasil atau orientasi proses. Bingung? Sama saya juga, sampai akhirnya si Dr Barton tadi bilang mengandaikan dengan cara melihat bayi belajar berjalan, bayi berjalan kita ga pernah kasih target muluk-muluk bukan? eh bayi dalam 2 minggu kamu sudah bisa berjalan dari pintu sini ke ruang tamu, jika belum bisa nanti kita sesuaikan dan kita akan cari kesalahannya dimana dan lalu kita perbaiki. Saya rasa ga gitu kan?? Lalu bagaimana memperlakukan bayi? Ya kita Cuma memberi waktu ke si bayi itu untuk berusaha dan berusaha hingga akhirnya dia bisa berdiri dengan tegak dan lalu mulai berjalan kemudian setelah itu kita terus menerus memberikan semangat sehingga akhirnya dia bisa berjalan dengan luwes.

Pada saat itu kita menikmati setiap proses si bayi itu lakukan dan si bayi berusaha untuk melakukannya karena itu hal baru bagi dia. Goalnya bukanlah tujuan yang ingin dicapai dari titik A ke titik B, tetapi goalnya proses si bayi hingga dia dapat berjalan. Untuk tipe ini tidak banyak yang tahu dan ini juga yang menjadi penyebab banyak yang merasa tidak nyaman ketika ada yang memasang target baik diri sendiri maupun untuk pekerjaannya.

Yang kedua adalah soal lari, pertengahan tahun hingga akhir tahun di kota saya sedang booming lari (walaupun lari itu sebenarnya sudah biasa). Jika anda ingin lari marathon maka anda harus menyiapkan stamina, fisik yang kuat. Dan hal itu dimulai dengan berlatih dan tentunya menetapkan target / goal, disini goalnya sangat jelas kenapa? Karena semuanya terukur, bandingkan dengan bayi, belum tentu bayi si A dengan bayi si B sama waktunya berjalan.

Sedangkan si calon pelari marathon ini sudah pasti mempunyai tolak ukur, darimana? Dari peserta atau pelari marathon lainnya yang sudah berpengalaman atau dari pelatih marathon, fungsinya buat apa? Supaya kita punya ukuran dan target yang ingin dicapai. Kalau sudah punya ukuran dan target selanjutnya apa? Perlengkapannya atau alat-alat dan pola hidup untuk mengukurnya, mulai dari jam, pola makan serta asupan gizi.

Buat teman saya pilihan kedua sangat memotivasi dia, kenapa? Karena dia punya sesuatu yang dikejar, punya sesuatu yang harus diraih dalam jangka waktu tertentu dan punya hasil yang dapat diraih. Dan ketika tidak sesuai maka dia punya dua pilihan, satu merubah dan menyesuaikan atau kedua memilih hobi lain (saya tahu karena dia sudah berganti banyak hobi). Bagi dia dan orang seperti dia, maka pencapaian adalah hal mutlak, hingga sampai tidak ada pencapaian lagi. Artinya dia akan termotivasi hingga mencapai puncak atau sampai badannya mencapai titik maksimum yang dapat dilakukan oleh dia.

Bagaimana dengan saya, jujur saya lebih condong ke pilihan pertama, saya menikmati prosenya ketimbang mencapai target yang harus dicapai dalam jangka waktu tertentu. Makanya saya yang paling buntut diantara semua teman lari, sudah lari tidak seberapa, ngos-ngosan pula, belum lagi ditambah makanan enak yang mendatangi saya (bakwan, pangsit goreng, mie pangsit) jadi masih penuh perjuangan hehe… Dan tentunya ada bagian diri saya yang menyukai olahraga ini tetapi ada yang menentang karena menyakitkan, tidak menyenangkan dan sebagainya. Oleh karena itu saya menyadari ada proses yang harus saya jalani yang harusberbeda dari kebanyakan teman-teman saya.

Bagaimana? Ya dimulai jalan sehat hanya seminggu sekali, lalu saya coba tingkatkan dalam sehari berusaha untuk lari sedikit-sedikit, setelah berhasil saya memberikan hadiah pada diri saya dalam bentuk membeli perlangkapan lari, waktu itu celana lari. Kemudian tidak beberapa lama kemudian mulai seminggu menjadi 3x dan ketika itu berhasil saya membeli baju lari. Demikin seterusnya hingga akhirnya ketika pace (langkah saya) naik 1 langkah lebih cepat dari rata-rata langkah selama ini (perhatikan dimana saya tidak menerapkan angka pasti melainkan rata-rata karena ukuran pasti khawatir akan membuat saya tidak nyaman) maka saya memberi hadiah kepada diri saya sepatu baru. Semakin berkomitmen saya, maka hadiah akan semakin besar dan semakin mahal (siapa bilang lari itu olahraga murah!!! Hadeh….)

Disini bisa jelas kan bedanya? Yang satu punya target dan harus dipenuhi jangka waktunya, satunya lagi juga punya target tetapi jangka waktu fleksibel disesuaikan individu yang bersangkutan ditambah mengakali si pikiran bawah sadar supaya dapat termotivasi . jadinya untuk buat goal maka coba pertimbangkan kembali mau menggunakan yang orientasi hasil atau orientasi proses.

bersambung…

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

95 − = 92