September 25, 2017

Select your Top Menu from wp menus

Memilih pasangan seperti memilih sepatu

sepatu usang

“Memilih pasangan seperti memilih sepatu”, Saya tidak tahu mendengar dari mana mengenai filosofi sepatu. Mungkin bagi para wanita sudah pernah mendengar bahwa untuk mencari pasangan yang cocok itu seperti memilih sepatu yang nyaman di pakai oleh sang wanita. Jadi sebelum membeli maka sebaiknya memilih dengan tepat sebelum sepatu itu sudah berada di kaki kita. Anda mungkin menyukai mulai dari bentuk, desain, bahan dan tentunya kenyamanan. Kemudian seperti ibarat sepasang sepatu maka pasangan itu ibarat kiri dan kanan saling melengkapi, tanpa ada yang kiri yang kanan tentunya tidak bisa berjalan sendiri.

Tetapi dari sisi pemikiran saya, saya ingin mengajak pembaca berpikir sedikit mendalam mengenai filosofi sepatu ini. Bagaimana kalau ketika anda memilih dan pada awalnya anda sudah sangat suka sekali dengan sepatu dan anda sudah mencoba beberapa kali (bahkan menyukai desain, bahan dan tingkat kenyamanannya) sehingga pada akhirnya anda membelinya, tetapi tidak beberapa lama ternyata sepatu yang anda beli dan anda sukai ini ternyata mulai melukai anda, membuat kaki anda lecet.

Kira-kira apa yang anda lakukan? Apakah anda tetap memakainya walaupun sepatu itu melukai anda padahal anda sudah mencoba berkali-kali sebelumnya dan anda merasa tidak apa-apa awalnya. Dalam hubungan antar pasangan pada awalnya tentu semua terasa indah, pasangan yang kita miliki seperti tidak memiliki kekurangan, hidup bersama dia seperti mimpi menjadi kenyataan. Tetapi ketika menyatukan dua insan, dua kepala, dua kepribadian, dua sifat dan dua kebiasaan (belum lagi tradisi yang satu dengan yang lainnya) tidak bisa terjadi dalam waktu yang dekat.

Pada saat berpacaran atau fase saling mengenal tentunya anda tidak mengenal pasangan 24 jam walaupun anda mungkin saja saling berhubungan satu sama lain secara rutin. Ketika anda sudah tinggal bersama pada awal pernikahan pun bisa jadi masih belum ada konflik. Ketika sudah beberapa tahun anda tinggal maka akan ada beberapa gesekan maupun konflik antara satu dan lainnya, bisa saja dari kebiasaan pribadi atau menjalar ke hubungan antar keluarga.

Sebelumnya saya tidak bilang ini pasti terjadi loh ya, seandainya ada pasangan yang tidak pernah mengalami gesekan atau konflik seumur mereka bersama maka saya ucapkan LUAR BIASA dan salut kepada mereka.

Konflik atau gesekan yang sifatnya minor tentunya tidak akan berpengaruh terlalu banyak pada hubungan tetapi bagaimana kalau sifatnya besar, mungkin saja sebuah ketidak-cocokan yang dari awal di toleransi menjadi tidak bisa di toleransi lagi, mungkin saja ada hal yang tidak diketahui sebelumnya dan sekarang diketahui dan menjadi perkara bagi pasangan.

Jika anda menggunakan filosofi sepatu tadi, berarti sepatu yang awalnya anda beli kemudian ternyata melukai anda maka anda tentunya akan menyimpannya atau mungkin membuangnya dan anda akan mencari sepatu lain lagi yang kiranya akan membuat anda nyaman.

Kalau anda gunakan filosofi ini didalam hubungan anda, berarti kalau tidak cocok setelah menikah apakah sebaiknya berpisah? Sebaiknya cerai saja apabila tidak cocok? Jangan terlalu mendangkalkan filosofi sepatu ini dengan hubungan antar pasangan. Bagaimana kalau pasangan tersebut sudah mempunyai anak? Bagaimana kondisi psikologi si anak kalau orang tuanya berpisah? Saya tidak bilang kondisi yang satu lebih bagus dari yang lainnya. Cuma tidak masuk di logika saya ketika anda membeli sepatu yang menurut anda nyaman lalu ketika sepatu itu melukai anda lalu anda tidak memakainya lagi (sepatu juga tidak bisa beranak lagi), lalu anda gunakan filosofi ini dalam hubungan antar pasangan. Kalau anda masih dalam status hubungan pacaran maka silakan gunakan “memilih pasangan seperti memilih sepatu”, tetapi ketika melangkah masuk ke dalam status yang lebih serius lagi maka pernyataan diatas semestinya sudah tidak valid lagi.

Hubungan pasangan jauh lebih kompleks bukan hanya soal kenyamanan tetapi lebih kondisi dan interaksi personal masing-masing pihak. Sesuatu yang awalnya anda bisa toleransi bisa jadi belum tentu pada kondisi jangka panjangnya bisa anda toleransi. Contohnya mungkin mendengkur, kalau 1-2 hari anda mendengar pasangan anda mendengkur mungkin baik-baik saja. tetapi kalau 10 tahun mungkin anda akan berpikir ulang jika ada faktor lain yang ikut memicu lagi konflik.

Sepatu punya masa pakai, apakah dalam hubungan juga ada masa pakai? Masa pakai sepatu mungkin terbaiknya bisa 10 – 20 tahun untuk dewasa. Setelah itu tentunya anda akan menggantinya karena kaki anda masih ada sedangkan sepatu sudah rusak, apakah hubungan dengan pasangan mempunyai masa pakai? Entah, karena kalau demikian berarti setelah 20 tahun anda merasa tidak nyaman satu sama lain lalu anda sebaiknya pisah?

sepatu usang

Sepatu tidak beranak, kalau anda sudah mempunyai anak bagaimana anda memikirkan kondisi si anak, silakan di renungkan baik-baik ya.

Saya lebih memilih sepatu berdasarkan fungsi sebagai salah satu faktor utama baru kenyamanan, desain, dan bentuk.

Kepada orang yang saya sayangi, tolong jangan beli sepatu hanya karena suka bentuk desain dan kenyamanannya, tetapi juga dipikirkan fungsinya, keberadaan fungsi sepatu sangat berguna dan bermanfaat jika dipakai sesuai kegunaan. mau jalan jauh atau traveling gunakan sandal, sepatu kets, atau sneakers yang nyaman dipakai. Jika ingin pergi pesta maka gunakan sepatu pesta, jika ingin olahraga ya gunakan sepatu olahraga, jika bekerja maka gunakan sepatu kerja.

Semoga bermanfaat.

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

− 5 = 2