May 28, 2018

Welcome to my journey

Unconditional Love ≠ Cinta tidak ber-Syarat?

sebenarnya bukan part 2, tetapi ini karena beberapa ada yang masih bingung dalam mendefinisikan unconditional love, ada yang bilang bahwa kalau bisa cinta itu harus tidak bersyarat, dan seperti yang kita semua ketahui bahwa tidak mungkin bahwa cinta itu tidak bersyarat karena segala sesuatu yang berkondisi pasti berubah (ingat hukum perubahan). nah sabar yah, nanti juga tahu kok. oke, sebelumnya kan kita membahas mengenai bagaimana kita memasang sendiri kondisi tersebut (syarat), nah kita sendiri yang memasang harusnya kita bisa mencabut posisi itu, loh maksudnya mencabut? begini, kita kan pasti punya kriteria mau seperti apa sih calon pasangan kita? benar kan? 


nah dari situ kita kan menyusun apa yang kita HARAP-kan kepada bakal Calon kita. kriteria, kondisi maupun syarat semuanya berhubungan kepada satu yaitu belief / kepercayaan kita. makanan apa pula itu “belief”, untuk lebih jelasnya silakan dibaca buku Adi W Gunawan, saya tidak akan menyentuh lebih dalam tetapi saya akan berikan penjelasan singkat, belief adalah kepercayaan, bagaimana cara kita melihat segala sesuatu di dunia ini. kemudian value, value ada nilai yang ada dalam diri kita, yang kita anggap penting. 

oke, lanjut jika syarat yang diterapkan bahwa pasangannya harus baik, itu belum spesifik, harus lebih spesifik lagi, baik yang seperti apa, sabar mungkin, atau dia baik kalau dia mendengarkan saya, nah ketauan kan tipe “baik” nya dia seperti apa? ingin pasangan yang mendengarkan kalau dia berbicara, nah disini tidak ada yang benar atau salah yah, kalau misal dirinya suka berbicara, berarti pasangannya adalah orang yang harus mau mendengarkan dia berbicara. sampai disini jelas? berarti dia akan masuk kriteria “baik” kalau dia mendengarkan saat berbicara.

kemudian sabar, nah loh ini sabar yang bagaimana? tanya lagi lebih rinci, oh dia harus sabar kalau saya sedang marah dia harus bisa meredakan amarah saya. kalau ternyata dia tukang marah atau suka marah tiap hari, bisa anda bayangkan yang jadi calonnya harus berusaha untuk meredam-nya dan disaat sama harus ber-“sabar” setiap hari (kok tau? pengalaman 😀 hehe)

bagaimana dengan pintar? nah loh, mesti cowonya lebih pintar dari cewe, kalau cewe nya ini punya IQ 140, cowonya paling gak harus punya IQ 141, berarti kepintaran dilihat dari sisi intelejensi, atau pintar yang jenis lainnya. nah lebih spesifik pintarnya, kalau mau pintar semuanya, pintar di segala bidang. ada cerita begini, saya terlibat diskusi dengan beberapa teman saya, mengenai kriteria cowo ideal. ada mau kaya, pintar, baik hati, pengertian, sabar, tidak sombong, pemahaman (apa bedanya dengan pengertian), mengayomi, lucu dan ganteng. saya lalu menambahkan satu kondisi lagi, cowo ideal itu harus tambah satu lagi, mereka bingung lalu menanyakan “apa yang kurang?” saya bilang cowo ideal itu “tidak pernah ada” Titik.. jadi pinter pun harus jelas ya pinter apa.. hehe..

teman-teman, namanya kondisi ideal selamanya hanya akan menjadi ideal di dalam benak kita. kenyataannya sudah pasti berbeda dengan keinginan (kondisi ideal) kita, loh jadi apakah kita ga boleh berangan2? boleee, sangat boleh.. sekarang yang harus kita siapkan adalah mental / kondisi batin kita ketika tidak terjadi, kalau terjadi ya saya ucapkan selamat, anda sukses, tetapi apakah semuanya bisa seperti itu? selama pengamatan saya belum ada jadi saya memberitahu, menyarankan bahwa anda harusnya siap ketika kondisi ideal itu tidak ada.

nah setelah penjelasan ini kesimpulannya adalah, kondisi itu yang harus anda pertimbangkan lagi, unconditional : tidak berkondisi, jadi anda tidak seenaknya ketika sudah berhubungan baru bilang ya sudah kita kan harus mencintai tanpa syarat. bukan itu, tetapi kondisi yang kita tetapkan di awal tersebut apakah sudah sesuai belum? kemudian apakah kondisi tersebut masuk akal tidak? bagaimana anda mendefinisikan kondisi ideal calon pasangan anda itulah yang anda harapkan, dan ketika apa yang terjadi tidak sesuai, mampu kah anda untuk mencabut kondisi itu atau merubah kondisi / syarat tersebut, itu loh maksudnya unconditional love, bukan mencintai dia tanpa syarat…. dan ingat HARUS DUA BELAH PIHAK.. 

seperti kata teman saya, orang-orang bisa membuat kata-kata yang indah yang penuh cinta hanya untuk menghibur diri dan pasangannya, tetapi jarang yang bisa benar-benar bisa diaplikasikan. 

semoga pemahaman unconditional love ini bisa membantu pemahaman bahwa keadaan bahagia kita lebih ditentukan pada diri kita sendiri ketimbang orang lain. kita sendiri yang menentukan kebahagiaan kita sendiri. semoga bermanfaat.

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

− 4 = 2