g Berbisnis itu usahakan memakai Akal Sehat | Trend Following

June 20, 2019

Welcome to my journey

Berbisnis itu usahakan memakai akal sehat

featured-business-success-simple

Benar anda tidak salah membacanya. Apapun yang kita lakukan seharusnya dilakukan dengan akal sehat. Dan ini yang terjadi beberapa hari yang lalu. Saya berencana akan bertemu dengan salah satu principal yang katanya adalah mempunyai akses besar di kota kami, dengan mempunyai koneksi yang cukup besar berencana untuk memberikan kesempatan emas kepada kami untuk bisa memegang lisensi dikota ini.

Apakah saya tertarik? Tentu saja, merupakan suatu kesempatan bagi saya untuk dapat bekerja sama apabila hal tersebut memungkinkan dapat saling bertukar ilmu dan pengetahuan. Setelah berbicara mengenai produknya yang sudah mendunia kemudian juga saya tertarik karena bidang dari merek itu cukup dikenal oleh kalangan industri.

Perbincangan mulai berangsur menuju masalah administrasi dan bagaimana potensi bisnis yang dapat kami raih serta bagaimana metode-metode pembayaran. Ini sebenarnya bukan hal yang baru dan tentunya para pebisnis sudah mengerti hal ini.

Tetapi ada hal yang menggelitik dan menganggu saya ketika pembicaraan mulai bagaimana kami dapat mendapatkan kesempatan memegang produk tersebut dan hal ini benar-benar menganggu akal sehat saya. jadi apa sih yang menganggu akal sehat? Mari kita simak..

  1. Omset yang harus dicapai, karena kami perusahaan dengan skala kecil tentunya ada tahapan sebagai contoh kalau usaha kecil, mungkin omset yang harus dipenuhi sekian. Lalu mungkin bertahap. Pembicaraan sempat sedikit hening ketika saya melihat dan mengetahui berapa capaian omset yang harus kami capai, target nya bukan target skala kecil atau menengah, ini target besar. (oh ya ini bukan bisnis MLM atau jejaringan)
  2. Mengatur apa yang harus kami lakukan. Saya sebenarnya tidak ada masalah karena tentunya setiap principal pasti mempunyai cara mereka berjualan atau memasarkan produk, akan tetapi saya paling tidak nyaman ketika saya diajak mengatur harga dan harus memakai cara lama (sebagai contoh saya harus mencari tahu siapa saja yang ikut partisipasi proyek dan mengatur proyek tersebut. Istilah kasarnya main atur saja). Bukan saya idealis atau sok suci, tetapi dari dulu saya berbisnis saya usahakan sebisa dan semampu mungkin menghindari cara main seperti ini. Konsekuensi terburuk ada di konsumen (tentunya anda tahu, barang kelas 3 dijual dengan harga kelas 1, sisanya dibagi-bagi dan masih banyak permainan lainnya)
  3. Margin diatur oleh principal. Pada beberapa bidang bisnis yang saya ketahui memang ada yang demikian. Sebagai contoh, bisnis retail tentunya margin tidak bisa terlalu besar (kisaran antara 3 -7% bersih sudah sangat bagus, bahkan pada laporan keuangan sebuah perusahaan terbuka yang bergerak dibidang retail yang pernah saya baca bisa berkisar antara 1-2%). Tentu margin kecil ini bukan tanpa sebab, sebabnya adalah karena perputarannya yang cepat sekali sehingga menurut ukuran bisnis yang dikejar adalah omsetnya.
    Lalu bagaimana dengan bisnis ini? Barang tersebut harus di buat lalu bukan buatan lokal, waktu pembuatan bisa antara 6 – 8 bulan belum termasuk pengiriman, bea cukai dan pemenuhan dokumen lainnya. Jatuh paling kasar kami bisa dibayar satu tahun kemudian. Dan ini yang mencengangkan saya, berapa profit yang harus kami ambil? 10 %. Hah? Kaget saya. 10% otak saya langsung berputar keras, kalau kita meminjam dari bank untuk modal kerja maka bank akan mengenakan rata-rata antara 12-14.75 % (rate tahun 2014). Lalu selama waktu tersebut bukannya untung malah kami harus menambah lagi beban bunga yang harus dibayar ke bank? Masuk akal? Tentu tidak. Biaya-biaya pengeluaran kami, overhead dan lain-lain siapa yang menanggungnya?
    jika ditaruh di reksa dana capaian 10% sudah bisa pasti (tetapi tidak selalu) tercapai tanpa harus mengurus tender, negosiasi, pengurusan akomodasi, transportasi dan harus membayar biaya lain sebagainya.

Kemudian apa yang terjadi? Ya saya katakan terima kasih atas tawarannya tetapi kami juga harus menyesuaikan dengan kemampuan kami. Saya tidak mau berkata sanggup lalu nanti dibelakang saya kalang-kabut. Mari kita lihat proyek dan kebutuhan apa yang sedang dibutuhkan dan kami coba jalankan sesuai yang biasa kami jalankan di perusahaan kami. Kalau merasa tidak cocok, kami juga tidak akan menghambat principal kami untuk mencari dukungan lain. Mungkin ada perusahaan lain yang cukup kuat untuk mau mengerjakannya.

Sekembalinya saya lalu rapat dadakan dan menceritakan apa yang terjadi pada pertemuan kami. Kami semua sependapat, untuk persyaratan ini mungkin hanya bisa dilakukan oleh sesama perusahaan skala besar. Tetapi saya tidak menutup kemungkinan tersebut dan mencoba untuk menjalani kesempatan tersebut.

semoga bermanfaat.

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

87 − = 83