g Investasi vs Spekulasi | Part 1 | Trend Following

June 20, 2019

Welcome to my journey

Investasi vs Spekulasi | Part 1

spekulasi investasi

Beberapa hari yang lalu saya sedang iseng mengupdate status mengenai posisi mata uang salah satu Negara. Cuma iseng-iseng berhadiah makan pizza saja, lalu tidak beberapa lama ada yang chat kepada saya. apa itu? Bisnis apa itu? Saya agak bingung menjawabnya tetapi tanpa ragu saya mengatakan bahwa saya hanya iseng saja gangguin teman.

Lalu tidak beberapa lama, teman saya itu langsung meminta diajarkan cara berbisnis dan berinvestasi. Untuk berbisnis rasanya tidak sulit, yang penting punya kemauan, punya produk, dan berani mencoba. Tetapi untuk berinvestasi ini saya sedikit curiga sehingga saya menanyakan kembali maksudnya berinvestasi ini apa?

Lalu dia mengatakan bahwa yang bisa mendapatkan hasil yang besar dengan waktu yang singkat. Ini yang dimaksud investasi oleh dia. Sebelumnya saya lalu bertanya, apakah dia sudah pernah berinvestasi? Dan dia menjawab sudah dan dia menyebutkan dua nama yang sudah tidak perlu saya sebutkan lagi namanya karena ini sudah terkenal sekali. Dan dua-duanya adalah sebenarnya Skema Ponzi (artikel mengenai MLM dan Ponzi) . saya lalu mengatakan bahwa maaf itu sebenarnya bukan investasi sama sekali, itu lebih tepat disebut spekulasi.

Awalnya dia kurang paham, tetapi saya memberikan penjelasan sebagai berikut. Investasi itu sebenarnya adalah pertumbuhan kapital atau modal, sehingga yang didapatkan sebenarnya selisih dari modal kita ditambah pertumbuhan dari modal kita. Contohnya adalah ketika kita membeli sebuah produk reksa dana katakanlah di harga NAB (nilai aktiva bersih) Rp. 1,000 jika dalam tiga tahun produk tersebut  mempunyai NAB di harga Rp. 1,500 maka nilai investasi kita bertumbuh menjadi 50% hasil dari investasi awal kita Rp. 1,000 dan modal tersebut tidak disentuh lagi dan biarkan bertumbuh menjadi Rp. 1,500 di tahun ketiga.  Karena butuh waktu dan proses yang tidak singkat, terlebih sebenarnya ada faktor lain seperti bagaimana kita menganalisa dan mempelajari produk tersebut jadi investasi sering kali dilupakan oleh kebanyakan orang.

Sama halnya dengan saham, ketika kita membeli saham ABCD di harga 1,000 dan menyimpannya dalam waktu cukup lama dan dalam waktu yang cukup lama itu anda menikmati deviden, serta kenaikan dari nilai saham itu, misal 1,500 di tahun kedua (sebuah saham yang bagus tentunya bertumbuh dan itu mempunyai konsekuensi logis bahwa harga sahamnya juga meningkat). Maka anda dapat dikatakan berinvestasi (anda mengharapkan pertumbuhan dari nilai investasi anda). Tentunya jangan lupa bahwa aspek lainnya juga harus dipertimbangkan, seperti laporan keuangan, analisa rasio keuangan, teknikal dan fundamental (terlihatnya banyak yang harus dipelajari tetapi percayalah ga sesulit itu kok).

Lalu spekulasi itu apa? Anda bisa mencari di google dan akan menemukan banyak sekali penjelasannya tetapi ciri-cirinya adalah imbal hasil yang tinggi dan waktu yang singkat. Jadi dalam sebulan kalau anda di berikan iming-iming imbal hasil sekitar 30% tanpa harus bekerja dan membiarkan uang anda bekerja maka itu sudah dapat dipastikan spekulasi.

 Mengapa? Karena berbisnis pun tidak ada yang seperti itu. Saya ingat cerita salah satu sahabat saya ketika berjualan mie instan goreng atau rebus, dia menjual seharga tiga ribu hingga lima ribu rupiah. Mie instan di supermarket dijual 1,200 – 1,400 rupiah. Kalau dia menjual polos dalam arti tidak pake telor dan hanya mie instan saja dia jual tiga ribu. Jika ditambah telor (dipasar seribu rupiah) maka dia kenakan 5 ribu rupiah. Hitungan kasar nya dia untung 100% bukan? Tetapi jangan salah dia bercerita bahwa untuk memasak di butuhkan gas, lalu alat seperti panci, piring, sumpit, sendok-garpu, belum lagi dia harus menyewa tempat, menyewa karyawan. Setelah dihitung-hitung margin keuntungan hanya 30-40% itu pun dia harus berjualan setiap hari selama 12 jam untuk memenuhi pengeluaran dia. Semua itu ada kegiatan fisik yang harus dilakukan dan bukan uang yang bekerja untuk dia kan? Itu dinamakan berbisnis dan asal anda mau dan mempunyai komitmen, saya yakin anda pasti bisa karena ini bisnis sektor riil dan hebatnya teman saya dia tidak merasa minder atau malu (prinsipnya dia menjual produk dan kalau ada yang beli berarti laku dan dia tidak mencuri dari siapapun).

Oke kembali mengenai spekulasi, apakah spekulasi baik atau buruk? Itu bukan saya yang menilai karena kembali lagi saya hanya mencoba membantu memperjelas bahwa ada perbedaan antara investasi dan spekulasi. Jika anda berharap keuntungan yang tinggi dalam waktu yang singkat maka anda sebenarnya sedang berspekulasi, sekarang ambil contoh kembali diatas apabila ingin membeli produk reksa dana dengan harga awal Rp. 1,000 dan dalam waktu 1 bulan saya berharap kenaikannya bisa 10% yaitu Rp. 1,100 maka tindakan ini bisa dianggap sebagai spekulasi, mengapa? Karena belum tentu produk reksa dana itu bisa menghasilkan dalam waktu yang singkat.

Begitu pula dalam saham, sama juga ketika anda membeli saham ABCD lalu berharap kenaikannya dalam 1 bulan sebesar 10-20% maka anda sedang berspekulasi, bukan berarti bahwa tidak ada ada saham yang seperti itu, tetapi bagi para pelaku pasar modal yang sudah lama berkecimpung tentunya mengetahui saham-saham itu kebanyakan (bukan berarti selalu ya) sudah tidur cukup lama, dan anda sedang berspekulasi untuk menentukan mana yang akan bangun dari tidurnya. Hal ini yang membuat saya setiap kali ditanya saham apa yang akan naik dalam waktu singkat, biasanya saya akan mengerinyitkan dahi dan menggelengkan kepala sekaligus menghela nafas untuk berhadapan dengan orang seperti ini.

Jangan menilai spekulasi buruk dan investasi itu pasti baik. Topik utama kita adalah bukan mengenai baik atau buruknya tetapi lebih mengenai pemahaman yang jelas dari mindset anda mengenai investasi dan spekulasi ini. Sehingga ketika anda ditawarkan oleh kolega atau rekan atau sahabat atau keluarga anda, maka anda dapat mengetahui apakah ajakan yang ditawarin mereka ini sebuah bisnis? Sebuah investasi atau sebuah spekulasi. Dan jika ajakan tersebut mengiming-imingi imbal hasil yang tinggi dan dalam waktu yang singkat tanpa anda harus bekerja (padahal anda seharusnya disuruh mencari dua orang dan mereka berjanji akan membantu), sebaiknya anda harus berhati-hati karena itu spekulasi dan jika anda berminat itu pun tidak masalah yang penting anda tahu konsekuensinya.

Apa saja konsekuensi dari spekulasi? Yang pertama adalah tidak tercapainya imbal hasil yang diinginkan. Jadi kalau anda berspekulasi di saham atau reksa dana dan dalam waktu yang diinginkan tidak tercapai atau bahkan rugi maka anda tidak dapat menyalahkan siapa-siapa, anda sudah tahu bahwa anda sedang berspekulasi. Ingat karena investasi itu tujuannya adalah menumbuhkan modal kita.

Setelah itu dia tidak membalas lagi chat saya, mungkin sudah terlalu pusing karena masih kehilangan uang akibat tindakan spekulasinya.

bersambung

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

60 − = 59