g Pentingnya Mindset yang sesuai | Trend Following

March 19, 2019

Welcome to my journey

Pentingnya Mindset yang sesuai

Business-mindset-e1404400210846

Saya sedang seru-serunya membaca di salah satu grup forex yang dulu pernah saya ikuti, komunitas itu makin lama makin ramai dan tentunya makin seru. Tetapi beberapa hari ini para anggota sedikit terganggu oleh salah satu anggota dimana anggota tersebut memancing serta membandingkan antara grup ini dengan komunitas lainnya. Membandingkannya mulai dari cara ajar, cara workshop, biaya dan hingga sampai ke trainernya.

Saya salut dengan pemilik grup yang awalnya dengan sabar meladeni dan memberikan masukan yang positif serta terus mengingatkan bahwa masing-masing punya gaya sendiri-sendiri, cara trading yang berbeda sehingga semua kembali ke individu yang bersangkutan apakah dia cocok atau tidak dengan gaya tersebut.

Tetapi makin lama makin ngawur cara bicara dan pola pikirnya, saya ingat jelas ketika dia membandingkan pencapaian salah satu trainer dalam 2 hari mendapatkan nilai yang besar di sebuah Koran besar. Dan itu terus dibahas sampai para anggota sudah kesal dan malas meladeni bahkan ada yang keluar dari grup tersebut hingga akhirnya terpaksa anggota ini di keluarkan karena sama sekali tidak kondusif, para member pun sudah mengingatkan bahwa ini kembali ke masing-masing individu jika ingin ikut silakan, jika tidak juga tidak ada yang melarang.

Hal ini kemudian menjadi renungan untuk saya karena kebetulan sekali teman saya yang sedang belajar saham, menunjukkan gejala-gejala serupa. Salah satu contohnya adalah membeli berdasarkan berita, perusahaan ini katanya akan membeli kembali perusahaan asing sehingga saya mau beli dan invest disini. Saya balik Tanya, jangka waktu invest kamu berapa lama? Logika nya kalau mau investasi tentunya harus mengerjakan analisanya terlebih dahulu dan bukannya membaca berita lalu langsung mau beli saham tersebut.

Setiap kali bertemu dengan sahabat atau kolega, sering kali mereka terbuai dengan kata-kata atau gambar-gambar eksotik yang menceritakan bagaimana mendapatkan keuntungan yang dahsyat dalam waktu sesingkat-singkatnya. Menurut saya mindset seperti ini merusak dan sudah pasti akan menjurus pada kerugian diri sendiri. Seringkali juga ketika saya sedang membagi menjelaskan mengenai trend, saya selalu dan hampir selalu ditanya, kapan saya bisa beli?

Dan seringpula saya balas menjawab, sekarang ini kalau kamu sudah punya dana dan sudah ada platform trading, sekarang pun bisa beli, tinggal klik buy saja sudah terbeli. Ga perlu repot, sederhana bukan? Kalau rugi jangan salahkan saya karena saya suruh beli, kan tanya kapan belinya, bukan menganalisa dulu alasan kenapa membeli saham tersebut. Toh profit atau rugi juga bukan saya yang menikmati, kenapa tanya saya?

Jadi mindset yang kurang tepat itu kira-kira apa ya?

Berpikir bahwa semua itu ada cara singkat, hindari kalimat-kalimat yang terlalu heboh yang bercerita bagaimana suksesnya dan indahnya berinvestasi, itu hanya kalimat marketing yang membuat anda tertarik saja tapi belum tentu memberikan anda informasi yang anda butuhkan. Seorang pemain professional pun membutuhkan waktu yang lama untuk latihan dan anda berpikir bahwa ada cara cepat untuk menjadi professional? Ya coba liat pemain professional sepak bola, apakah mereka hanya ikut kursus singkat 2 minggu terus langsung jadi hebat?

Ada cara instan, ini saya temui pada beberapa teman setelah mengikuti seminar dari arisan berantai atau money game. Percayalah sesuatu yang instan itu belum tentu baik, bahkan mie instan pun membutuhkan waktu 3 menit untuk jadi instan. Anda tidak bisa berharap mendapatkan indicator terbaik, cara trading terbaik dalam kursus yang singkat lalu kemudian merasa bahwa sudah menemukan holy grail trading system. saat ini teknologi sudah semakin canggih dan memang kita semakin dimudahkan tetapi bukan berarti hal ini menjadi instan, kita hanya terbantu saja.

Ada indicator canggih yang berfungsi di setiap kondisi pasar.

Kalau anda tanyakan pada semua trader yang berpengalaman, rata-rata akan menjawab “there is no such thing as holy grail”, mereka ada yang menggunakan alat bantu (bisa tools, bisa EA, ingat ALAT BANTU!!! Bukan Holy Grail!!!) atau hanya trading menggunakan indicator yang ada di platform saja. Bahkan terkadang saya melihat ada yang trading tanpa menggunakan alat bantu apapun (orang itu bilang saya trading hanya melihat harga saja “price action”).

Lalu mindset yang sesuai itu yang bagaimana?

New-mindset-new-result

Belajar itu butuh proses, ingat seperti bayi, sebelum belajar berjalan si bayi akan belajar berdiri terlebih dahulu, bahkan sebelum berdiri si bayi akan belajar duduk, begitu seterusnya. Bahkan sebelum berbicara si bayi akan mengeluarkan kata pertamanya terlebih dahulu walaupun mungkin kata tersebut belum tentu dapat dipahami oleh kita.

Artinya apa? Artinya berikan waktu pada diri anda untuk komitmen untuk mau belajar seluk beluk terlebih dahulu, misal kalau di forex ya belajar dulu awal mula nya seperti apa, trading seperti apa, apa aturan mainnya, bagaimana cara tradingnya, siapa mentor atau orang yang mau kita ikuti sebagai sumber rujukan. Atau di saham, pemahaman awal, aturan mainnya, perusahaan-perusahaan yang terdaftar di bursa, sekuritasnya, platform trading tiap sekuritas, keuntungan dan kerugiannya.

Jangan membandingkan pencapaian anda dengan orang lain.

Saya paling sering ditanya berapa keuntungan yang saya peroleh hari ini, minggu ini, bulan ini atau tahun ini. Kalau saya bilang rugi, malah disinggung sudah belajar jauh-jauh dan banyak masih rugi? (oh ya jangan salah, saya pernah jadi bulan-bulanan dari trainer yang mengadakan seminar / workshop, “sudah trading lama tapi masih rugi, begitu bilangnya”.

Dan saya pun harus menjelaskan bahwa sebenarnya yang harus dilihat adalah apa pencapaian yang sudah anda capai sampai sejauh ini, apakah untung atau masih rugi? Kalau untung maka rayakanlah (pergi makan bersama keluarga, traktir makan atau jalan-jalan, bahkan merasa bersyukur atas diri sendiri pun saya hitung sebagai perayaan), kalau rugi maka intropeksi dan cari tahu apa yang membuat rugi. Kan itu intinya Untung atau rugi merupakan bagian dari trading, kalau kita bisa menerima itu sudah pasti kita tidak perlu membandingkan dengan orang lain.

Belajar itu bukan tujuan tetapi proses.

Jangan berpikir bahwa sekali anda belajar analisa lalu selesai. Dan saya pikir hampir semua bidang seperti itu, karena dunia itu dinamis maka kita selalu bergerak. Baik di bisnis atau di pasar keuangan, menurut saya pribadi ilmu itu akan selalu berkembang. Ada ilmu-ilmu yang klasik yang masih dapat kita ikuti tetapi ada ilmu yang merupakan bagian dari pengembangan ilmu-ilmu lama. Saya sendiri mengakui bahwa saya perlu terus meng-update diri (akhir-akhir ini saya meminta bantuan mentor karena melihat performa saya yang kembali tidak konsisten) dan terus berkembang karena mungkin ada hal yang belum saya ketahui atau terlewatkan sehingga saya perlu untuk mendapatkan informasi.

Pentingnya Manajemen Keuangan.

Buka laptop bukan berarti harus buy, ini khusus saya tujukan kepada para sahabat saya yang sering berdiskusi dengan saya. Membuka laptop lalu membuka chart bukan berarti pada saat itu harus membuka posisi dan biasanya berakhir kalau sudah masuk posisi malah balik bertanya ini kalau begini dimana stoploss nya dan dimana Take profitnya? Kadang juga sehabis analisa lalu berpikir bahwa besok sudah bisa langsung beli. Perkara beli itu mudah sekali Cuma tinggal klik buy saja.

Yang paling penting sebenarnya adalah seberapa baik kita menjaga modal kita, terkadang orang hanya berpikir bagaimana mereka bisa meraup keuntungan dengan cepat tanpa memikirkan dimana posisi mereka berada. Misalnya di saham dengan modal 10 juta lalu langsung membeli dana yang langsung di beli tanpa langsung memikirkan titik tahan kerugiannya (stop loss) karena punya asumsi akan naik 20%-50%, tapi tidak memikirkan bahwa ketika harga berbalik arah, berapa kerugian yang diderita. Hal ini juga saya alami sendiri jadi bukan berarti saya bilang ini karena saya paling jago, tapi saya menemukan bahwa hal ini penting sekali bagi trader untuk yang benar-benar serius di bidang instrument keuangan.

Jadilah supir bukan penumpang.

Itu yang dikatakan mentor saya maksudnya adalah untuk dapat berhasil anda harus melakukan sendiri dan bukan menjadi orang yang mau terima beres. Ibarat kita sedang belajar mengendarai mobil maka kita sendiri yang harus berada didepan setir dan bukannya di samping setir sebagai penumpang. Kita yang belajar sendiri bagaimana menangani situasi ketika misalnya berada di tanjakan, macet atau lampu merah, kondisi-kondisi itu harus dialami sendiri sehingga kita sendiri mengetahui bagaimana menanganinya.

Kalau anda mau jadi penumpang ya silakan, anda selamanya akan terima beres teapi ketika suatu saat anda diharuskan menyetir sendiri maka anda akan kesulitan.

Wah panjang juga ya… padahal saya paling jarang nulis panjang lebar kebetulan saja ada inspirasi untuk menulis.

Semoga bermanfaat.

About The Author

Related posts

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

8 + 1 =